Segenggam Cahaya Untuk Ayah

Penulis: Saiful Alfiandi* 

“Din siap?” Tanya ayahku.

“Insya Allah Yah,” sambil tersenyum kecil penuh kedustaan.

Maafkan aku yah, sebenarnya adinda tidak mau pergi kepesantren. Gumamku lirih dalam hati.

Pancaran kilauan senyum mentari di atas langit yang berwarna merah memudar yang menghilangkan kabut pagi, serta awan-awan kecil nan tipis seakan menemani perjalanan Toyota hitam metalik ini menuju istana baruku.

Aku hanya sedih diam termenung hati gelisah ketika melihat sebuah papan nama bertuliskan “PONDOK PESANTREN DARUL ULUM”. Tanda itu akan menjadi saksi perpisahanku dengan keluargaku kali ini.

Ayah dan ibuku mengantarku menuju kantor pondok pesantern untuk mendaftarkanku sebagai santri baru di sini. Pengurus menunjukkan kamar baruku. Aku diantar oleh mbak Dina, salah satu pengurus dipesantern itu.

(Baca juga: Wanita Muslimah)

“Assalamualaikum.” Ucap kami perlahan seraya mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam.” Semua personel kamar refleks menjawab salam kami. Spontan, mereka langsung berlarian berebut tangan untuk berjabat tangan dengan keluargaku. Aku hanya tercangang kaget saat bola mataku berkeliling menyoroti setiap sudut di kamar tersebut Layakkah tempat ini dijuluki sebagai kamar? Sanubari kecilku bertanya-tanya tanpa jawaban.

Tempatnya sangat berantakan. Ukurannya dua kali lebih kecil dari ukuran kamarku di sini berisikan 40 orang. Wow, super over kuota. Bagaimana aku bisa beristirahat. Firasat kecilku bertanya-tanya

“Din..”

“Iya Yah?”

“Ayah dan ibu mau pulang. Kamu jaga diri baik-baik di sini jangan sampai telat makan,” nasihat terakhir ayahku.

“Iya Yah. Ayah hati-hati di jalan!” sambil memeluk ayah dan ibu seraya air mataku menetes membanjiri pipiku seakan menjadi tanda perpisahanku dengan keluargaku.

Perlahan toyota hitam metalik itu sudah mulai jauh kasat dipandang oleh mata

“Hay, salam kenal. Aku Sinta, Kamu?”

“Aku Dinda.”

Min aina anti?

Min banyuwangi akhtasu fii genteng.”

“Hay…. Aku Veny, ketua kamar di sini. Jadi, semua yang ada di sini menjadi tanggung jawabku.”

“O..ooh iya.”

“Eh ini lemarimu dan ini tatib di pesantren ini, baca semua ya!!….”Sambil menyodorkan beberapa lembar kertas di tangannya

Kuletakan semua barang bawaanku lalu kubaca selembaran kertas yang kuterima

“Din bacanya nanti aja kamu kenalin dirikamu dulu pada yang lainnya!”

“Perkenalan gimana Sin?”

“Yaa introducing your self , anggap aja kamu sekarang lagi mos.”

“Kenalan, kenalan, kenalan..”suasana menjadi gaduh riuh ricuh

“Namaku ALDERINA DINDA AFSARI. Just call me Dinda, kata temen-temen di rumah aku itu sabar. hobiku banyak sih salah satunya menyanyi.”

“Cita-citamu apa Din?” Tanya seseorang yang belum aku kenal namanya.

“Mmm, Apa ya? Aku pengen membahagiakan my parents.”

“Kamu mau nggak nyanyiin sebuah lagu buat kami?”

“Nyanyi..nyanyi” Suasana gaduh kembali tercipta.

An empty street.. an empty house a hole inside my heart.

Iam all alone the room are getting smaller

Wonder how iwonder why I wonder where they are the days we had the song we sang together” lantunan lagu westlife yang halus yang keluar dari bibir tipisku ini seolah menghipnotis semua personel kamar yang awalnya gaduh riuh ricuh sekarang menjadi hening tanpa suara seperti di kuburan.

“Ransum datang………… ransum datang………..”teriak salah seorang santri

“Din nggak mau makan Kamu?”

“Makan sama apa Sin?”

“Ya biasanya sama Parsi, tempe, ya pokoknya makanan pondok lah.”

“Enggak, sudah makasih, aku masih kenyang kok.”

Hari menjelang malang setelah jamaah salat isya seperti biasa semua santri menjalani rutinitasnya yaitu, diniah.

“Assalamualaikum.” Masuk seseorang berperawakan tinggi agak kurus berlogat Jawa dan  berambut ikal.

Kudengar dari Sinta, beliau bernama Ustaz Agus Nadhim.

“Kita mulai pengajian pada malam hari ini, buka halaman 71!”

“Enggeh Ustaz.”

Bismillahirohmanirrohimm, kolal mualifu rohimahumullah hubihi wa nafaulubihi fiddaroini amin…..Faslun aihadaa faslun utawi iki iku ono pasal siji

“Sin, diapain nih kitab?” Tanyaku kebingungan.

“Diartikan lahh, pakek tulisan pego.”

“Aku gak tau nihh gimana?”

“Duhh gimana ya.. setau Kamu aja dah Din.”

Perlahan jaritanganku pun mulai mengukirkan tinta hitam di kitab ini. Aku kebingungan mengatur jarak maknaku karena jarak antara baris satu dengan baris lainnya di kitab sangat pendek kira-kira ukuran 1.0 mm di microsoft word, sedangkan artinya sangat panjang.

Wallahua’lam bissowab al fatihah wassalamualaikum warah matullahi wabarakatuh.” Ucap ustaz Nadhim mengakhiri pengajiannya.

“Akhirnya selesai juga nih pengajian,” gumamku dalam hati gembira.

“Eitss, jangan kira udah selesai besok ngaji lagi.”

“Tiap hari Sin?”

“Yaya, begitulah.”

“Hah? OMG…”

“Mana sini lihat kitabmu?”

“Nih,” sambil kusodorkan kepadanya.

“Hahaha.. mana ada kitab diartiin pakek tulisan Indonesia, Dinda Dinda.”

“Maklumlah santri baru.”

Detik berganti menit, dari menit berganti jam siang berganti malam membuat hatiku gelisah. Perasaanku tidak kerasan untuk tinggal di pesantren, semenjak nilai ulangan-ulangan Nahwu Sorrof dan Tafsir serta tugas-tugas Fiqih yang menurutku menjadi soal-soal yang sangat sulit kutaklukkan. Mereka bagaikan robot-robot militant buatan Rusia yang sangat sulit dirobohkan.

Aku merenungi nasibku yang semakin hari semakin bosan hidup di pesantren ini, lantai tigalah yang akan menampung semua kerinduanku terhadap orang tuaku.

“Brug … Brug…Brug“ kudengar hentakan kaki menuju tempat pengasingan diriku ini.

“Din…Dinda!”

“Kamu, Vena, ada apa?”

“Ada,”…hah hah…….,” ucap Venny terengah-engah dengan napas yang tersengal-sengal.

“Tenangin dulu diri kamu, baru bicara.”

“Ad .. ada operasi,” ucapnya dengan nada tinggi.

“Hah, siapa yang sakit?” Tanyaku kebingungan.

“Bukan operasi itu, tapi pemeriksaan lemari.”

“Duh, gimana nih BBku?” Ucapku lirih dalam hati.

“Waktu Mbak Nina meriksa lemarimu, Dia nemuin BB.”

“Tuh kan bener .. mampus nih gue.”

“Kamu sih nggak mau bilang ke aku kalo kamu bawa barang gituan, aku kan bisa bantu nyimpen ke tempat aman.”

“Terus gimana nih sekarang?”

“Kamu sekarang pergi ke kantor, jelasin kenapa kamu kok bawa BB.” Aku pun langsung berlari menuju kantor, semakin dekat langkahku semakin menjadi lebih berat lekuk lekuk kakiku. Bergetar. Keringat mengucuri seluruh tubuhku, hati dan nyaliku semakin menciut ketika mengingat kegalakan mbak Nina ketika mempergoki santri santri yang melanggar.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam, masuk!” Kakiku melangkah perlahan memasuki ruangan paling ditakuti oleh santri, ruang sidang itulah namanya.

“Dinda.. Hpmu bagus juga modern, canggih, tapi barang seperti ini tidak diperlukan di pondok, ngerti kamu!” Bentaknya dengan nada tinggi.

“A..anu…Mbak, itu cuma buat hiburan kalo saya lagi suntuk dan bosen.”

“Tetap barang seperti ini dilarang di sini.” Bentaknya memotong sepatah kalimat yang belum selesai kutuaikan.

“Kamu itu santri baru.. udah nilai ulangan, tugas nggak ada yang di atas 3, bawa hp lagi, mau jadi apa Kamu di sini?”

“Iya Mbak.”

“Mau jadi apa Kamu di sini? Sudah sana ke kamar.”

Aku hanya terdiam menangkap omelan mbak Nina yang dilemparkan padaku. Aku lalu keluar menemui Venny yang sedari tadi sudah cemas menungguku.

“Gimana Din?”

“Beres dah pokoknya.”

“Syukurin suruh siapa bawa hp! Kalo mau pamer jangan di sini.” Suara itu menusuk-nusuk kuping telingaku, kucari sosok yang berani mengatakan itu padaku, ternyata seseorang berlogat Surabaya itu yang mengatakannya.

“Apa maksudmu bicara seperti itu Fer?”

“Dasar tukang pamer.”

“Udah-udah Din, jangan diladenin Fera orangnya emang gitu, mendingan kita sekarang ke kamar aja,” ajak Venny.

“Iya Ven,” aku menurut.

Berjam-jam aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi tidak bisa terlelap juga aku teringat oleh sosok ayah dan ibuku di rumah aku merindukan mereka. Aku berlari keluar menuju di mana tempat yang bisa menampung semua isi hatiku, kutatap langit yang hitam kelam yang tersirami oleh gemerlap jutaan cahaya bintang di angkasa. Angin malam yang menyapaku mengingatkanku kepada orang tuaku.

“Din? Dinda? Ngapain kamu di sini ?” Suara itu seakan menjadi penghapus lukisan wajah ayah dan ibuku yang sulit kulukis di benak imajinasiku.

“Din.. Kamu kok nangis? Kenapa?”

“Aku kangen sama kehidupanku yang dulu Sin.”

“Udah sabar, di sini kan juga enak Din?”

“Di sini tuh hidupnya serba dibatasi, aku nggak bisa hidup di tempat seperti ini, gini gak boleh gitu gak boleh nyebelin ah, apalagi semua peraturan yang dibuat pengurus selalu bertolak belakang dengan keinginan santri.”

“Iya memang begitu kenyataanya Din, semuanya kan demi kebaikan kita juga.”

“Yaudah Sin aku mau turun duluan.” Langkah demi langkah kakiku kutuntun menuruni anak tangga, kulihat ustazah Dina.

Brug .. brug hentakan kakiku menuruni tangga mengejar ustazah.

“Assalamualaikum ustazah.”

“Waalaikum salam. Eh, Kamu Din ada apa?”

“Dinda boleh pinjam hp?”

“Ohh ini,” sambil menyodorkan smart phone-nya. Kuketik sebuah pesan singkat untuk ayah.

“Ini ustazah, sukron katsirr.”

“Iya Din, sana cepet kembali ke kamar istirahat ini kan sudah malam, cepet istirahat.”

“Iya ustazah.”

Kembali kulangkahkan kakiku menuju kamar yang super over kuota itu.

Dughh..kakiku terasa menendang sesuatu, kuambil benda itu kupandangi “BUKU” dalam hati berkata. Aku segera berlari menuju ke tempat terang “1001 kisah teladan“  begitulah judul buku tersebut. Jari-jariku langsung membuka lembar per lembar.  Entah kenapa sorot mataku dan jari-jariku terhenti pada sebuah lembar kisah tentang Ibnu Hajar. Pandangan mataku asyik menyimak huruf demi huruf, baris demi baris dari atas ke bawah, kanan ke kiri. Hati tersugesti, pikiranku terhipnotis  kalimat-kalimat dari lembaran kertas, hatiku bergejolak tergoncang. Deraian air mata mengalir dari pelipis mataku yang tipis.

“Din kenapa kok nangis?” Suara Venny dari balik pintu kamar.

“Nggak ada kok,” sambil menyembunyikan buku di tanganku.

“Nggak ngantuk? Tidur yuk!” Kulirik arlojiku menunjukkan  tepat pukul 01.00.

“Iya, Ven,  aku juga ngantuk.”

Beberapa hari setelah aku disibukkan oleh surat-surat, tekadku sudah bulat untuk hengkang dari sini.

“Din jangan lupa aku ya.”

“Aku juga.” Aku merangkul Venny dan Sinta yang sesunggukan matanya terlihat sambab.

Ukhtina Alderina Dinda Afsar, min genteng narju ila idarah markazia ja’a abuka.”

Deggh, hatiku benar-benar senang mendengar pengumuman tersebut, di sini lain hatiku sangat sedih karena harus berpisah dengan teman-temanku.

“Din siap?” Isyarat ayahku. Aku melihat sejuta kekecewaan  di raut wajahnya, akulah salah satu harapan ayah untuk menjadi penerusnya sebagai santri.“ Ya Allah ya Robb, ampunilah hambamu ini. Sebaris doa dalam hati kecilku. Sejenak aku termenung, aku teringat oleh sebingkai kisah dari Ibnu Hajar dari buku itu.

Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau adalah seorang anak yatim. Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras, dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir.

Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun, ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Suatu ketika, saat beliau masih belajar di sebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan, sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.

Beliau pun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh di dalam sebuah gua. Ketika berada di dalam gua, pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliau pun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapa pun kerasnya sesuatu jika ia diasah terus-menerus, maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi, kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin, dan sabar.

Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui gurunya dan menceritakan peristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar di jiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid di sekolah itu.

Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah manjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal di zaman kita sekarang ini. Aku termotivasi untuk bangkit kembali

“Yah..”

“Iya, Din?”

“Mungkin Dinda nggak bisa hidup di tempat ini dengan otak bebal yang Dinda miliki ini, tapi Dinda akan terus berusaha Yah, Dinda nggak jadi pindah.” Kulihat pancaran kebahagian dari butiran air mata ayah yang menetes.

“Alhamdulillah,” bisiknya pelan di telingaku sembari memelukku.

Dari sela-sela pohon hibiskus sebersit sinar mentari menyinari seluruh sudut-sudut ruangan di Pesantren ini seperti cahaya ilahi yang  menyinari sudut hati hambanya yang di kehendaki.

“Majulah……. Jangan Menyerah. Perjuangkanlah Cita Cita. Hadapilah Hidup Ini. Mungkin hanya ujian Tuhan,” kudengar lantunan nada yang diciptakan Andika Mahesa Setiawan yang dinyanyikan oleh Sinta.

Semua orang di sini terlihat bahagia, ada yang bingung karena melihat drama kehidupan yang aneh ini. Kutata kembali niatku menjadi santri di sini dengan mengucapkan lafaz  “بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم”.

Penulis merupakan alumni SMA Nuris Jember

Related Post