Menjadi Guru Pilihan Hakiki sejak dari Hati

penulis: Salsabila*

Setiap orang pasti sepakat kalau seorang guru harus menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat. Bukankah guru itu digugu dan ditiru, Namun, apakah guru cukup menjadi teladan? Menurut saya tidak. Mengapa? Karena guru juga harus sejati dan revolusioner. Artinya, yang perlu disoroti di sini juga semangat guru dalam mengemban tugas mulianya.

Secara implisit, bisa di simpulkan ada “Guru Sejati” dan “Guru Aspal”. Guru sejati adalah mereka yang menjalankan tugasnya dengan penuh semangat keikhlasan dan semangat revoluisioner mendidik anak bangsa, mereka mengajarkan segala ilmunya tanpa pandang berapa rupiah yang menjadi gajinya karena tujuan utama mereka adalah memberi pendidikan terbaik untuk para generasi penerus bangsa. Sedangkan guru aspal adalah mereka yang berorientasi pada “rupiah” belaka, mengajar tanpa mendidik dan hanya bertujuan memenuhi presensi.

Mereka tidak bisa mewujudkan hakikat seorang guru yakni menjadi pengganti sosok ayah ibu. Dan seperti yang di ketahui, sosok ayah ibu merupakan sosok motivasi terbesar bagi seorang anak. Akan tetapi, jika keadaan guru demikian (Guru Aspal) mampukah seorang guru menjadi sosok pengganti ayah ibu siswa di sekolah?

(baca juga: Terranagarta: Tunjukkan Sejarah Bumi Dengan Beragam Kreativitas Santri)

Oleh karena itu, untuk menghindari  munculnya guru aspal yang semakin mengkhawatirkan ada beberapa cara :

Pertama, Memperketat penerimaan guru, baik sekolah berstatus swasta maupun negri. Karena selama ini masih banyak orang menjadi guru hanya berbasis KKN. Artinya, asalkan punya kenalan pihak sekolah, asalkan punya uang ratusan juta rupiah, maka akses masuk jadi gurupun mudah.

Kedua, Mempertegas aturan dan kriteria menjadi guru.

Ketiga, Guru harus linier, sesuai jurusannya. Artinya, jika guru itu lulusan Pendidikan Agama Islam, maka yang diajar gura mata pelajran agama Islam pula. Masih sering kita jumpai fakta di lapangan, guru mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. Misalnya, lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia mengajar materi bahasa Inggris, lulusan Pendidikan Biologi mengajar materi ekonomi dan sebagainya.

Yang jelas dan utama adalah guru harus memenuhi kualifikasi akademik dan kriteria plus-plus. Artinya, selama ini banyak guru yang pandai secara akademik, namun tidak mampu menjadi pendidik yang mampu memberikan motivasi dan semangat bagi siswanya. Inilah yang disebut dengan “kemampuan puls-plus” yang jarang dimiliki oleh guru. Bahkan banyak guru killer yang ditakuti siswanya, guru yang selalu memakai metode CBSA (Catat Buku Sampai Abis), guru yang mengajar ala kadarnya, banhkan guru yang centil/gatalkepada sisiwinya, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah yang perlu dibenahi, jangan sampai guru aspal merusak pendidikan di negara ini.[]

*Penulis adalah alumnus MA Unggulan Nuris tahun 2017

 

Related Post