Rajin Membaca dan Pantang Menyerah
Pesantren Nuris — Prestasi membanggakan kembali hadir dari keluarga besar MA Unggulan Nuris Jember. Salah satu siswi kelas XII MIPA, Nur Camilia Khusna, berhasil mencatatkan pencapaian luar biasa dengan menuntaskan khatam 13 kitab selama menempuh pendidikan di lingkungan pesantren. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa ketekunan, kesabaran, dan semangat belajar yang tinggi mampu membawa seseorang menuju hasil terbaik.
Siswi yang akrab disapa Khusna ini berasal dari Langsatan, Sukamakmur, Ajung, Jember. Dikenal sebagai pribadi yang tekun dan sederhana, Khusna memiliki kegemaran membaca. Kebiasaan positif tersebut menjadi salah satu faktor penting yang mendukung keberhasilannya dalam belajar, baik di sekolah maupun di pesantren.
Di balik kesuksesannya, Khusna menyimpan cita-cita mulia, yakni ingin menjadi seorang dosen. Keinginan tersebut menunjukkan semangat besar untuk terus menuntut ilmu dan kelak membagikan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Cita-cita itu juga menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus berkembang dan tidak mudah menyerah.
Selama menjalani pendidikan di MA Unggulan Nuris Jember dan pesantren, Khusna berhasil mengkhatamkan 13 kitab yang menjadi bagian penting dalam tradisi keilmuan Islam. Kitab-kitab tersebut meliputi Hidayatus Shibyan, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Aqidatul Awam, Hujjah NU, Jauharotut Tauhid, Taqrib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani, dan Fiqih Tradisionalis.
(Baca juga : Raih Sarjana Hukum Berpredikat Cum Laude di Jakarta, Alumni MA Unggulan Nuris Bidik Karier Cakim)
Menyelesaikan belasan kitab tentu bukan perkara mudah. Dalam perjalanannya, Khusna mengaku sering menghadapi kesulitan saat memahami materi karena penjelasan yang dirasa kurang jelas, atau saat harus menghafalkan bagian-bagian tertentu yang cukup menantang. Namun, ia tidak membiarkan kesulitan tersebut menghentikan langkahnya.
Khusna memiliki prinsip sederhana namun sangat bermakna dalam belajar. Ia memotivasi diri dengan cara sering-sering membaca ulang pelajaran. Selain itu, ketika ada materi yang belum dipahami, ia memilih bertanya dan tidak malu untuk meminta penjelasan. Menurutnya, rasa malu bertanya hanya akan menghambat kemajuan diri.
Ia juga menanamkan sikap untuk tidak malas-malasan dalam belajar. Baginya, keberhasilan bukan diperoleh dari kecerdasan semata, tetapi dari usaha yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten setiap hari.
Keberhasilan Khusna mengkhatamkan 13 kitab menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga, guru, dan lembaga pendidikan tempat ia menimba ilmu. Capaian tersebut menunjukkan bahwa siswi MA Unggulan Nuris tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi keagamaan yang kuat.
Dalam pesan dan kesannya, Khusna menyampaikan harapan agar Pesantren Nuris semakin maju dan semakin baik lagi ke depannya. Ungkapan tersebut mencerminkan rasa cinta dan kepeduliannya terhadap Pesantren yang telah menjadi tempatnya tumbuh dan belajar.
Adapun harapan besarnya adalah agar Pesantren Nuris mampu terus berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya dalam segala bidang. Ia berharap pesantren ini semakin maju, semakin berkualitas, dan terus melahirkan generasi yang berilmu serta berakhlak mulia.
Nur Camilia Khusna menjadi inspirasi bagi banyak pelajar bahwa kesulitan dalam belajar bukan alasan untuk menyerah. Ketika seseorang mau terus membaca, rajin bertanya, dan tidak malas, maka jalan menuju keberhasilan akan terbuka lebar.
Semoga perjalanan Khusna mampu memotivasi siswa lainnya untuk terus semangat menuntut ilmu, berani bertanya ketika belum paham, serta menjadikan belajar sebagai kebiasaan sehari-hari. Sebab setiap usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang membanggakan di masa depan. [LA.Red]
Nama : Nur Camilia Khusna
Alamat : Langsatan, Sukamakmur, Ajung, Jember
Hobi : Membaca
Cita2 : Dosen
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember
Kelas Formal : XII MIPA
Prestasi : Khatam 13 Kitab (Hidayatus Shibyan, Tarbiyatus Shibyan, Ta’limul Muta’allim, Aqidatul Awam, Hujjah NU, Jauharotut Tauhid, Taqrib, Luqmatus Shaighoh, Jurumiyah, Imrithi, Amtsilah Tasrifiyah, Kailani, dan Fiqih Tradisionalis)
