Geliat Prestasi Santri MA Unggulan Nuris Asal Bondowoso Rebut Medali Perunggu Sosiologi KSN 2026

Santri Kekinian bukan sekadar Mengaji, tetapi Siap Berkontribusi sekaligus Berprestasi

Pesantren Nuris – Achmad Juliansyah Putra F. dikenal sebagai santri yang giat belajar dan bersemangat mencoba berbagai hal baru. Semenjak belajar di MA Unggulan Nuris, segenap prestasi mentereng telah ia raih. Yang terbaru, ia berhasil menggondol medali perunggu olimpiade sosiologi tingkat nasional ajang Kompetisi Sains Nasional (KSN) 2026 pada 03 Mei 2026 kemarin.

Putra dari bapak Joni Fatahillah dan ibu Fina Elviliana ini bukan pertama kali meraih medali di kancah nasional. Sebelum torehan prestasi terkini, ia sudah pernah meraih medali perak olimpiade bahasa Indonesia KSN, medali perunggu olimpiade bahasa Inggris KSN, dan Juara 1 Pidato bahasa Inggris di tingkat Yayasan Nurul Islam Jember.

“Saya berterima kasih kepada MA Unggulan Nuris yang telah memfasilitasi kami untuk turut serta dalam kompetisi tingkat nasional secara daring. Meski di pondok banyak sekali kegiatan dan juga sekolah, kami berupaya meluangkan waktu untuk ikut lomba dengan tujuan mengukur pengetahuan kami dan meningkatkan semangat belajar.” Tukas Juliansyah, sapaan akrabnya.

Kompetisi bertajuk KSN ini dilaksanakan secara daring dan diikuti ratusan peserta dari berbagai sekolah se-Indonesia. Meski terbilang kompetitif, pelajar yang duduk di kelas X F MA Unggulan Nuris ini tak gentar. Kali ini ia menguji “nyalinya” pada bidang pelajaran sosiologi hingga membuahkan hasil maksimal berupa medali perunggu.

(baca juga: Santri Zaman Now Raih Medali Emas Olimpiade Nahwu Sharraf Dong, Amelia Bikin Bangga MA Unggulan Nuris)

Bagi santri cerdas kelahiran Jember, Juli 2009, untuk mengikuti lomba selevel nasional ini tak melulu harus mempersiapkan diri dengan pembelajaran intensif. Baginya pembelajaran di kelas yang komprehensif dan enjoyable memberikannya kesempatan untuk menguasai materi secara mendalam dan kritis.

“Saya memang suka mata pelajaran sosial humaniora. Saya juga bercita-cita menjadi seorang pengacara profesional. Dengan mengikuti kompetisi ini saya bukan sekadar berprestasi, tetapi untuk memantik semangat belajar, mengevaluasi diri, dan tentu pengalaman kompetitif. Meski santri banyak kegiatan hafalan kitab, harus tetap kompetitif dalam mata pelajaran umum.”

Di masa depan, Juliansyah berusaha belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengapa cita-citanya dapat melanjutkan di kampus negeri impian seperti UNAIR Surabaya atau Institut Teknologi bandung. Saat ini ia terus menempa diri dalam berprestasi dan menjaga akhlak, hingga juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri seperti OSIM, media pesantren.[AF.Red]

 

Related Post