Lawan Malas demi Mahkota Surga, Thufail Menjaga Hafalan
Pesantren Nuris — Ahmad Thufail merupakan salah satu santri sekaligus siswa kelas XII D di MA Unggulan Nuris Jember yang memiliki semangat kuat dalam menjaga hafalan Al-Qur’an. Sosok yang akrab dipanggil Thufail ini dikenal sebagai pribadi sederhana, disiplin, dan memiliki tekad besar untuk terus istiqomah dalam mengaji serta menjaga hafalan yang telah diperjuangkannya.
Putra dari pasangan Bapak Taufikul Bari dan Ibu Nurul Hidayati ini berhasil menyelesaikan hafalan pada tanggal 7 Maret 2025. Momen khatam tersebut menjadi salah satu pencapaian berharga dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang santri penghafal Al-Qur’an. Perjuangan yang dilalui tentu tidak mudah, karena dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengorbanan besar untuk menjaga hafalan tetap kuat.
Sebelum melanjutkan pendidikan di MA Unggulan Nuris Jember, Thufail menempuh pendidikan di MTs Unggulan Nuris. Lingkungan pendidikan berbasis pesantren membuat dirinya terbiasa dekat dengan Al-Qur’an sejak usia muda. Dari sana, tumbuh semangat untuk terus belajar dan memperdalam hafalan.
Di tengah aktivitasnya sebagai santri tahfidz, Thufail juga memiliki hobi pencak silat. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara baginya untuk menjaga kesehatan fisik sekaligus melatih kedisiplinan dan mental. Menurutnya, olahraga juga penting untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan jasmani dan rohani.
(Baca juga : Kuliah ke Mesir bukan Lagi sekadar Mimpi, Ayo Wujudkan Bersama MA Unggulan Nuris)
Motivasi terbesar Thufail dalam menghafal Al-Qur’an adalah keinginannya untuk memberikan mahkota kehormatan kepada kedua orang tuanya di akhirat kelak. Harapan tersebut menjadi sumber semangat yang terus mendorongnya agar tidak mudah menyerah dalam menjalani proses panjang menghafal Al-Qur’an.
Namun, perjalanan tersebut tentu dipenuhi tantangan. Thufail mengaku bahwa rasa malas menjadi kesulitan terbesar yang sering dihadapi. Rasa malas terkadang muncul ketika lelah atau jenuh dengan rutinitas hafalan yang terus diulang setiap hari.
Untuk mengatasi hal tersebut, Thufail menggunakan metode Takrir dalam menghafal Al-Qur’an. Metode ini dilakukan dengan cara membaca ayat atau halaman secara berulang-ulang hingga benar-benar melekat dalam ingatan. Menurutnya, semakin sering diulang, maka hafalan akan semakin kuat dan lebih mudah dijaga.
Meskipun terlihat sederhana, metode tersebut membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Tidak jarang Thufail harus mengulang bacaan berkali-kali demi memastikan hafalannya benar-benar lancar dan minim kesalahan.
Pengalaman paling berkesan bagi Thufail selama menjalani proses tahfidz adalah perjuangannya dalam melawan rasa malas. Baginya, tantangan terbesar seorang penghafal Al-Qur’an bukan hanya menghafal ayat, tetapi bagaimana menjaga semangat agar tetap istiqomah dalam mengaji setiap hari.
Dalam perjalanan sebagai santri tahfidz, Thufail juga pernah mengikuti lomba MHQ internal lembaga. Meskipun belum berhasil meraih prestasi, pengalaman tersebut tetap menjadi pelajaran berharga baginya. Ia menjadikan setiap perlombaan sebagai sarana belajar untuk meningkatkan kemampuan dan mental.
Kegagalan dalam lomba tidak membuat Thufail berkecil hati. Sebaliknya, ia semakin termotivasi untuk terus memperbaiki kualitas hafalan dan mempersiapkan diri lebih baik lagi di masa mendatang. Baginya, proses belajar jauh lebih penting daripada sekadar hasil akhir.
Ke depan, Thufail memiliki harapan besar agar dirinya dapat terus istiqomah mengaji dan menjaga hafalan Al-Qur’an sepanjang hidup. Ia percaya bahwa tidak ada istilah “mantan penghafal Al-Qur’an”. Hafalan yang telah dimiliki harus terus dijaga dan diamalkan agar tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Selain ingin sukses dalam menjaga hafalan, Thufail juga memiliki cita-cita melanjutkan kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Setelah itu, ia bercita-cita menjadi anggota TNI AD. Keinginan tersebut menunjukkan bahwa Thufail ingin menjadi pribadi yang disiplin, kuat, dan mampu mengabdi kepada bangsa sekaligus tetap menjaga nilai-nilai keislaman dalam hidupnya.
Dalam pesan motivasinya, Thufail mengajak semua orang untuk terus semangat dalam belajar Al-Qur’an. Ia mengingatkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Pesan sederhana tersebut mencerminkan semangatnya untuk terus dekat dengan Al-Qur’an dan menyebarkan manfaat kepada sesama.
Ahmad Thufail menjadi inspirasi bagi banyak pelajar dan santri bahwa proses menghafal Al-Qur’an membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kemampuan melawan diri sendiri agar mampu menjaga hafalan dengan baik.
Perjalanan Thufail juga membuktikan bahwa setiap tantangan dapat dilalui jika dijalani dengan niat yang tulus dan semangat yang kuat. Dengan istiqomah dan doa dari kedua orang tua, ia terus melangkah untuk menjadi pribadi yang sukses di dunia maupun akhirat.
Semoga perjalanan Ahmad Thufail dalam menjaga hafalan Al-Qur’an terus diberikan kemudahan dan keberkahan. Dengan tekad besar dan semangat yang dimilikinya, ia diharapkan mampu meraih cita-cita serta menjadi generasi muda yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat. [LA.Red]
Nama : Ahmad Thufail
Hobi : Pencak Silat
Cita2 : TNI AD
Lembaga : MA Unggulan Nuris Jember
Kelas Formal : XII D
Prestasi : Khatam 30 Juz
