Santri Nuris Kuliah di Kota Never Ending Asia: Santri Yes, Mahasiswa No Problem

Jogja- Pondok Pesantren, salah satu sistem pendidikan yang memang sudah sangat lama ada di bumi Nusantara yang sangat kental dengan ke-Islam-annya ini. Di Pondok Pesantren Nurul Islam tercintalah awal kisah ini dimulai. Pintu gerbang yang mengantarkan saya dan teman-teman untuk terus belajar berusaha dan berdo’a untuk meraih mimpi dan cita-cita. Sebelumnya terima kasih untuk ayah dan ibuku tercinta, keluargaku, para guru, asatidz, pengurus dan para pengasuh tercinta yang terus mendorong saya dan teman-teman yang  lain tanpa pernah menyerah untuk membimbing, menemani belajar, menjadi orang tua kami  dan tempat curahan kasih serta keluh kesah kami. Semoga beliau-beliau sehat selalu dan diberi keberkahan serta ridhlo Allah SWT. Amin.

Di awal pertama masuk di Pesantren Nuris tercinta, rasa tidak betah, bosan,  terkekang dan rindu dengan suasana desa, rumah dan lingkungan sekitar pasti mendera, apalagi bagi santri baru. Namun, setiap putusan yang kita ambil pasti ada resiko yang harus kita tanggung, kiranya itulah yang harus kita hadapi. Karena meraih cita-cita dan mimpi tentu harus dibarengi dengan usaha dan do’a. Usaha tanpa do’a tak akan pernah bernilai dan sia-sia. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tentang apa yang saya fikirkan ternyata salah. Pondok bukan melulu mengajarkan tentang ilmu Agama, di sini saya dan teman-teman juga diajarkan tentang ilmu-ilmu yang bersifat umum. Masuk di jurusan IPA sebagai angkatan pertama dari salah satu lembaga di pesantren ini merupakan kebanggaan bagi saya dan teman-teman. Di MA ”Unggulan” NURIS tepatnya. Kami tidak hanya belajar tentang kitab, belajar Nahwu, Shorof dan ilmu agama  yang lain, namun kami juga dididik untuk siap terjun kemasyarakat dengan dibekali ilmu-ilmu umum sebagai bukti bahwa santri bukan hanya bisa ngaji.

Pada tahun pertama semua berjalan dengan baik. Di tahun kedua saya dan teman-teman  diajak untuk mengamalkan ilmu yang selama ini kita pelajari. Jadi, terlalu egois bagi saya jika mengatakan bahwa Pondok Pesantren hanya tempat untuk belajar. Program Abdi Masyarakat (PAM) adalah salah satu program mengajar ke pondok lain selama satu bulan untuk mengabdi dan mengamalkan ilmu yang telah kami dapatkan. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar. Dari PAM tersebut saya dan teman-teman semakin sadar bahwa menjadi teman belajar sekaligus tempat curah kasih bagi orang lain itu memang sulit. Hargailah Guru dan Ustadzmu!!! Karena merekalah pahlawan tanpa tanda jasa yang membuat kita mengerti indahnya ilmu.

Tahun ketiga semakin membuat darah berdesir. Momok Ujian Nasional atau UN  adalah hal yang paling ditakuti bagi siswa kelas XII. Tanpa henti para Guru, Asatidz dan Pengasuh selalu membimbing kami untuk belajar, berusaha dan berdo’a bahkan kami didampingi  langsung untuk istighotsah dan sholat hajat setiap hari langsung oleh Syaikhona  KH. Muhyiddin Abdusshomad dan para asatidz, serta guru-guru tercinta kami yang lain. Sungguh mulia beliau-beliau ini. Saya percaya bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha dan do’a. Di satu sisi saya dan teman-teman merasa senang dan bahagia karena tak ada satupun dari kami yang tak lulus tak lain berkat bimbingan beliau-beliau semua, namun di sisi lain kami merasa berat untuk meninggalkan ma’had tercinta yang telah banyak memberikan kami pelajaran berharga dalam hidup ini. Kuliah adalah hal yang di impikan bagi para santri seperti saya dan yang lain pada waktu itu. Santri adalah identitas kami, dan menjadi mahasiswa adalah tujuan saya dan teman-teman selanjutnya. Menjadi mahasiswa adalah jalan bagi saya dan yang lain, namun bukan berarti lepas begitu saja. Saya dan yang lain akan terus berusaha untuk membantu dan berkontribusi kepada almamater yang telah membuat kami seperti sekarang.

Ada yang tetap mondok, ada juga yang kuliah. Belajar tidak selalu di sekolah atau kampus, pondok juga tempat yang nyaman dan indah untuk belajar dan menimba ilmu. Banyak di antara saya dan teman-teman yang di terima di Perguruan Tinggi Negri, ada yang tetap di Jember, ada yang di Surabaya, Jogja, Jakarta dan perguruan tinggi di kota-kota lain. Bahkan, ada juga yang di terima kuliah di luar negeri, this is amazing…!!! Alhamdulillah salah seorang yang beruntung tersebut adalah saya. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah hal yang membuat saya sangat senang, bangga dan semakin terpacu untuk terus belajar dan belajar. Menjadi mahasiswa rantau? No problem bagi saya dan teman-teman lain yang diterima di Perguruan Tinggi di luar kota. Karena kami sudah biasa menahan rindu. Meraih mimpi dan cita-cita pastilah ada pengorbanan dan usaha yang harus dilakukan. Suka duka mahasiswa rantau yang jelas pasti saya rasakan adalah rindu, adaptasi dengan lingkungan baru, metode belajar yang baru dan semua hal yang serba baru bagi saya, untung-lah pesantren telah memberikan saya dan yang lain ilmu yang Alhamdulillah sangat membantu. Jika ditanya apa hal yang membuat mahasiswa rantau galau? Berpisah dengan teman seperjuangan di pesantren, orang tua, para guru, asatidz dan Pengasuh serta pesantren tercinta adalah hal yang sulit, inilah terkadang yang membuat kami berfikir ulang. Namun pilihan, kesempatan dan peluang tak datang dua kali. Mungkin inilah yang terbaik. Semoga …!!!

Jogja…!!! Kehidupan di Jogja yang ramah, masyarakat yang santun, teman-teman baru yang baik serta suasana belajar yang kondusif dengan didukung buku-buku yang menunjang akademik membuat saya merasa nyaman belajar di kota Istimewa ini. Perpustakaan kampus yang lengkap ,tempat wisata yang membantu menghilangkan penat belajar membuat saya semakin merasa betah di kota budaya nan romantik ini. Diskusi dengan teman-teman mahasiswa, berorganisasi dan hal indah lain seperti bertukar ide dan budaya dengan mahasiswa lain yang berasal hampir dari seluruh penjuru Nusantara ini semakin membuat saya bergairah. Hal lain yang saya lakukan adalah aktif di organisasi, yaitu di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan di organisasi Internal Kampus sebagai penunjang akademik dan aktifitas harian di sela-sela waktu kuliah. Dimana pun kita berpijak, di situlah tempat kita harus belajar, berusaha dan berdo’a. Pesan saya : “jangan berhenti belajar, berusaha dan berdo’a”. Man Jadda Wa Jada. Menjadi mahasiswa adalah salah satu jalan menuju impian, dan santri adalah identitas kehidupan. Jangan pernah menyerah sebelum kematian mem-finish-kan kehidupan kita.

BANGGA JADI SANTRI !!!

MARI MENJADI MAHASISWA !!!

SALAM MAHASISWA !!!

 

By: Rijal Fikri Muzakki

Alumni MA “Unggulan Nuris Jember Tahuin 2014/2015

Mahasiswa Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Aktif di Organisasi PMII

rijal-1 rijal-2 rijal-3

Related Post