Sejarah Kemunculan Karya Sastra Angkatan Pujangga Baru

Karya Sastra angkatan Pujangga Baru terlahir karena adanya perubahan karya sastra yang sebelumnya lebih bersifat poitik. Karya yang bersifat politik tersebut dinilai tidak lagi sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia yang notabene mengarah pada sifat nasionalisme. Selain itu, gelora semangat persatuan mulai tumbuh pada bangsa Indonesia termasuk golongan sastrawan.

Kemunculan karya sastra angkatan Pujangga Baru merupakan reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai, terutama karya sastra yang mengusung tema nasionalisme dan rasa kebangsaan. Pada mulanya Pujangga Baru merupakan nama sebuah majalah yang didirikan oleh Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Armijin Pane pada tahun 1933.

(baca juga: Yang Perlu Anda Tahu Dibalik Keindahan Bulan)

Angkatan Pujangga Baru lahir sebagai angkatan yang lahir sebagai angkatan yang mendapat pengaruh dari karya sastra Belanda. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya pemuda Indonesia yang mengikuti pendidikan barat. Saat mengikuti pendidikan barat, banyak pemuda Indonesia yang mendalami kesusastraan Belanda. Para sastrawan Pujangga Baru memiliki suatu pemikiran bahwa sastra memiliki fungsi untuk meendorong bangsa kea rah kemajuan.

Pujangga Baru lahir sebagai angkatan yang mulai beralih dari tema-tema adat, seperti kawin paksa. Angkatan ini mulai mengusung tema-tema yang lebih bersemangat dengan cita-cita baru pada karyanya. Para penulis dari berbagai pelosok tanah air berlomba-lomba untuk membuat karya sastra dengan berbagai gaya dan corak kebudayaan, tetapi masih tetap dalam satu cita-cita. Angkatan ini tidak lagi didominasi oleh penulis-penulis dari Sumatra tetai dari berbagai daerah di Indonesia.

(baca juga: Seluk Beluk Agama Islam)

Terjadi polemik antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane pada angkatan Pujangga Baru tersebut. Polemik tersebut berkaitan dengan perbedaan pemikiran dan cara pandang dalam mengembangkan kebudayaan. Sanusi Pane cenderung berorientasi ke timur yang bersifat Spiritualis, sedangkan Sutan Takdir Alisjahbana cenderung berorientasi ke barat yang bersifat intelektualis.

Penulis artikel di atas adalah Ahmad Zadun Naja. Penulis merupakan siswa X PK A MA Unggulan Nuris dan aktif sebagai penulis di ekstrakurikuler jurnalistik website Pesantrennuris.net

Related Post