Membasuh Kaki

Soal :

Ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa tidak wajib membasuh kaki. Yang wajib hanya mengusapnya. Manakah yang benar? Apakah kaki itu wajib dibasuh ataukah cukup dengan diusap?

Jawab:

Menurut madzhab Syafi’i yang wajib adalah membasuh kaki. Karena tidak sah wudhu’nya kalau hanya mengusap kaki saja. Dalam kitab Safinah al-Najah disebutkan:

فُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةٌ. إلى أن قال. اَلْخَامِسُ غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ (سفينة النجاة، ٤)

“Fardhu wudhu’ itu ada enam: … kelima adalah membasuh kaki sampai dengan mata kaki.” (Safinah al-Najah,4)

Kesimpulan ini diperoleh setelah memperhatikan kalimat arjulakum yang terdapat pada QS. Al-Ma’idah: 6. Kalimat arjulakum itu dibaca nashab sebab ‘athaf kepada kalimat wujuhakum. Sebagaimana disebutkan oleh seorang Mussafir besar, Imam Abi al-Fida’ Isma’il bin Katsir :

قَوْلُهُ : (وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ) قُرِئَ (وَأَرْجُلَكُمْ) بِالنَّصْبِ عَطْفًا عَلَى (فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ). إلى أن قال. وَرُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ وَعُرْوَةَ وَعَطَاءٍ وَعِكْرِمَةَ وَالْحَسَنِ وَمُجَاهِدٍ وَإِبْرَاهِيْمَ وَالضَّحَّاكِ وَالسُّدِيِّ وَمُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانٍ وَالزُّهْرِيِّ وَإِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيِّ ، نَحْوُ ذَلِكَ.  وَهَذِهِ قِرَاءَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى وُجُوْبِ الْغُسْلِ ، كَمَا نَقَلَهُ السَّلَفِ (تفيسر ابن كثير، ج ٢ ص ٢٦)

“Firman Allah SWT (wa arjulakum ila al-ka’bain), lafadz it dibaca mashab di-athaf-kan kepada kata faghsilu wujuhakum…. Bacaan semacam ini diriwayatkan dari Ibn Mas’ud, Urwah, Atha, Ikrimah, Al-Hasan, Mujahid, Ibrahim, al-Dhahlak, al-Suddi, Muqatil bin Hayyan, al-Zuhri, dan Ibrahim al-Taymi. Inilah bacaan yang jelas menunjukkan wajibnya membasuh kaki, sebagaimana telah dunukil ulama salaf.” (Tafsir Ibn Katsir, juz II, hal 26).

Di samping itu ada banyak Hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu membasuh kakinya ketika berwudhu’ seperti:

عَنْ أَبِي حَيَّةَ الْوَادِعِيِّ قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا وَتَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثَلَاثًا، وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا، وَذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ، وَغَسَلَ قَدَمَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا. ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَالَّذِي رَأَيْتُمُوْنِي فَعَلْتُ. (مسند أحمد، رقم ١٢٧٩)

“Diriwayatkan dari Abi Hayyah al-Wadi’i, ia berkata, “Saya melihat Sayyidina Ali RA (sedang berwudhu’)…. Beliau membasuh kedua tangannya (sampai pergelangan tangannya) tiga kali. Lalu berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) sebanyak tiga kali. Membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh tangannya tiga kali. Lalu mengusap kepalanya, dan membasuh kedua kaki (sampai mata kakinya) tiga kali”. Setelah itu Sayyidina Ali RA berkata “Begitulah saya melihat Rasululullah SAW berwudhu’ sebagaimana engkau melihat apa yang saya lakukan.” (Musnad Ahmad bin Hanbal,[1279]).

Bahkan Nabi Muhammad SAW mengancam seseorang yang berwudhu’ hanya dengan mengusap kakinya. Dalam sebuah Hadits ditegaskan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: تَخَلَّفَ عَنَّا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرْنَاهَا فَأَدْرَكَنَا – وَقَدْ أَرْهَقَتْنَا الصَّلاَةُ – فَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا، فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ: «وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ» مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا (صحيح البخاري، ٥٨)

“Dari Abdullah bin Umar RA dia berkata,”Dalam sebuah perjalanan, Rasulullah SAW pernah tertinggal dari kami. Tak lama kemudian beliau menyusul, sementara kami terlambat melakukan shalat Ashar. Maka kamipun berwudhu’ dengan mengusap kaki-kaki kami (bukan dengan membasuhnya). Rasulullah SAW kemudian berteriak dengan suara lantang dua kali atau tiga kali. “Celakalah (orang-orang yang hanya mengusap) kaki-kakinya (dalam berwudhu’).” (Shahih al-Bukhari,[58])

Jika kita mengikuti uraian di atas, sesuai dengan yang disebutkan dalam Alquran dan Hadits, berarti mengusap kaki dalam berwudhu’ tidaklah cukup. Seseorang yang hanya mengusap kaki ketika berwudu’, makanya wudhu’nya tidak sah. Karena itu kaki harus dibasuh, agar wudhu’ yang dilaksanakan menjadi sah.

Sumber: KH Muhyiddin Abdusshomad. 2010. Fiqih Tradisionalis. Surabaya: Khalista.

Related Post