Anyaman Kematian yang Melarung Nyawa

Oleh: Ayu Novita Sari*

Rajutan kisah masih terus melilit hingga menjadi helaian yang rumit. Torehan coretannya pun membingungkan, tentang tanah, laut, awan, hujan, matahari bahkan bumi yang terus berputar. Tidak sama. Kau hidup di zaman apa?. Saat aku masih berdialog dengan-Nya atau saat aku hidup di perut ikan yang berterbangan bersama embun. Jangan tanyakan sesuatu pada orang yang sedang duduk melingkar di sana, mereka mengirim pesan jika mereka sibuk memikirkan orang banyak.

Aku berjalan menuju tempat yang penuh dengan bambu yang bersiulan. Hanya ada sungai tenang dan buaya yang sedang tidur kelaparan di sampingnya. Aku tertawa dalam hati. Aku terus berjalan bertemu dengan hamparan rumput yang sangat hijau dengan tumbuhan yang sama di sana juga ada sapi perah yang dengan makan bermalas-malasan. Sama saja!. Sabana, orang menyebutnya seperti itu. Bukan hanya sapi perah yang ada di sana, ada seseorang yang sedang memainkan seruling duduk di bawah pohon, irama serulingnya menandakan kegundahan hatinya. Mungkin dia orang yang selalu resah.

Berjalan tanpa makan dan minum. Aku sampai pada sebuah hamparan yang sangat luas hingga di ujung sana ada garis tetapi itu bukan sebuah akhir hamparan ini. Samudera. Ikan berbisik seperti itu padaku. Aku berjalan di atasnya. Airnya bening hingga aku dapat melihat kehidupan yang indah di bawah sana. Kenapa aku tidak terlahir seperti mereka, terlahir jadi ikan yang hanya berenang dan makan. Atau, menjadi batu karang tempat tinggal para ikan. Aku terus berjalan dan terus berjalan hingga aku tak menemukan daratan lagi. Aneh.

Aku tak melihat ikan lagi di bawah pijakan samudera. Tidak ada karang lagi, tidak ada rumput lagi. Airnya mengeruh. Aku marah, aku berlari dengan keras, dengan cepat hingga gelombang yang tertidur anggun menjadi marah hingga menggulungku dan menghempaskanku. Gelombang itu sangat besar hingga memporak-porandakan daratan yang ada di dekatnya, ucapku kepada wartawan.

***

Pateh[1]
Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
Hinggo pupusing jaman[2]

(baca juga: Akara Akalpa)

Arbab[3]. Sederhana saja namaku, aku hidup pada langit ke tujuh. Hingga aku turun ke bumi menepati panggilan seorang wanita yang sedang cemas hatinya. Aku bertengger pada suatu ranah yang sangat sederhana, tetapi banyak belatung keresahan di sana. Hawa di sini sangat panas, tapi aku menikmati saja. Wanita itu sepertinya jatuh cinta padaku. Hatiku merasa senang ketika ia mulai mendekatiku. Tenang. Tetapi aku merasa cemburu ketika ia mendekati yang lainnya.

Ketika ia menyanyikan sebuah lagu, dengan sepenuh hati aku keluarkan irama-iramaku yang mampu membuat pendengar menjadi kelu dan terhenyak. Dengan alunan iramaku aku mampu membuatnya tertidur nyenyak malam harinya hingga dia melupakan kecemasan hidupnya. Aku harap begitu kenyataannya?. Berusaha masuk pada dunianya yang amat sangat berbeda denganku. Aku percaya dia mendengar setiap syair yang aku lontarkan padanya lewat alunan nada yang aku keluarkan.

Pernah suatu hari aku melihat ia menangis saat memainkan tubuhku. Matanya yang meneduhkan terlihat sayu dan sembab. Lewat kisi-kisi angin aku usap air matanya, sangat lembut sekali. Lama ia menangis, hingga beberapa waktu kemudian datang seseorang mendekatinya. Aku tak mengerti mereka membicarakan tentang apa yang aku tahu wanita pujaanku itu merasa terganggu dengan kedatangannya.

Baru kali ini aku merasakan rasanya melabuhkan cinta yang sangat kepada pelabuhan menyejukkan. Kelembutan tangannya saat menyentuhku, ketulusan lagunya melantunkan mengiringi iramaku, hingga kepercayaannya kepadaku dengan kata-kata yang melunakkan hatiku. Aku pun begitu membiarkannya tertidur saat ia mendengarkan nada-nada yang aku suguhkan. Jari-jari mungilnya menghangatkan saat memeluk tubuhku yang sedang kedinginan. Harapku wanita bersenyum teduh itu, mengijinkan aku terus bersanding dengannya.

***

Gugu[4]
Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
Maper hardening ponco, saben ulesing netro
Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan
Sang Hyang Jati Pengeran[5]

Sebuah kehormatan aku Demung[6] berada pada tengah-tengah keramaian. Dengan senang hati aku liukkan badanku mengeluarkan nada yang seirama dengan teman-temanku yang lain. Semangatku bertambah ketika seorang manusia yang disebut wanita memainkan tubuhku dengan lembut dan penuh dengan keikhlasan. Aku jatuh cinta padanya. Jari-jari mungil lembutnya menabuh dengan pukulan yang sangat menenangkan. Ia tidak sadar jika aku membuatkan sebuah syair untuknya.

Pelayaranku menuju bumi penuh perjuangan. Melewati lembah kurcaci, padang kaktus, bahkan Negeri Senja. Berenang melewati segitiga bermuda hingga aku keluar lewat black hole. Bukan hanya itu, aku sempat terbentur satelit buatan NASA. Bukan sebuah keinginanku untuk berada dekat dengan wanita itu, bukan pula keinginanku jika aku harus berpisah dengannya karena aku sudah menaruh hati pada senyuman teduhnya. Lantunan suara merdunya melunakkan hatiku, persis seperti saat Sang Pencipta memberikan nyawa padaku. Sangat lembut.

Ada yang mengganjal pada dirinya. Wanita itu selalu terlihat cemas, pandangannya kosong saat memainkan diriku pada suatu hari. Hari-hari berikutnya mimik dan air mukanya tetap sama. Dengan ketulusan hati sebagai penggemar dalam diamnya aku selalu mengeluarkan nada-nada yang aku yakin dapat mengurangi keresahannya.

(baca juga: Sajak Kopi Kongsi)

Rupanya aku mengetahui tentang sesuatu. Saat itu, aku sedang tertidur dan bermimpi indah tentangnya. Tiba-tiba terdengar suara isakan yang membangunkan tidurku, benar saja saat aku membuka mataku terlihat mata wanita itu sudah sembab. Terlihat juga di sana terdapat seorang laki-laki yang entah sedang berdialog apa dengan wanitaku itu. Aku tidak mengerti bahasa mereka. Ku edarkan pandangan pada teman-temanku yang juga menyaksikan waktu itu. Mereka mengerdik menandakan ketidak pahaman yang sama.

Bukan untuk pertama kalinya aku melihat ia seperti itu. Suatu hari ia datang dengan kegelisahan yang amat sangat sampai ia memukul tubuhku dengan sangat keras tetapi dengan sekuat tenaga dan dengan ketulusan kasih aku tetap mengeluarkan nada yang menenangkan untuknya, karena hanya hal itu yang bisa ku lakukan untuk wanita itu. Hingga ku biarkan ia terlelap di dekatku melewati bisikan nada aku lantunkan puisi-puisi untuk menenangkan hatinya. Kasih yang telah aku tabur pada saraf kehidupan wanita itu ku rasa bisa ia pahami, aku hanya ingin dia mengerti jika aku selalu ada bersamanya di kehidupan kesehariannya.

***

Pica bunga[7]
Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku
Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi
Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi.
Mukti ingsun … tanpo piranti
Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno
Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno
Tyasing roso mardiko,……..[8]

Pikon[9]. Di ruangan ini hanya aku yang memiliki suara paling istimewa. Jika mereka bisa dimainkan oleh siapaun, aku tidak mempercayai jika semua manusia  bisa memainkanku. Hanya orang tertentu saja yang bisa menyatu dengan diriku. Ketika aku bertemu dengan dirinya, dia adalah satu-satunya wanita yang bisa menyatukan suara merdunya dengan alat musik klasik sepertiku. Aku jatuh hati padanya. Adakah pertemuan yang sangat singkat yang bisa membuatku mencintai pada pandangan pertama?. Hanya mata indahnya yang bisa berlaku seperti itu.

Saat aku berada jauh di atas sana aku merasa terpanggil dan ingin cepat sampai saat seseorang pribumi mengundangku untuk hadir. Tidak ada penyesalan. Dalam seumur hidup aku hanya bergelut di tangan laki-laki saja, pada kesempatan ingkarnasi kehidupan ini aku menjadi alat yang sangat beruntung bisa terjamah oleh tangan mungil perempuan pemilik senyum teduh itu. Siluetnya terlalu membingungkan jika aku bersusaha menghapus dalam bayang mimpiku. Meski ia tidak tahu jika aku selalu ada disaat ia sedih bahkan sedikit tawa di kesehariannya.

Wanita itu terlalu sempurna jika ia memiliki mimik sedih pada wajahnya. Waktu itu, aku sedang menikmati suara nada yang di mainkan oleh teman-teman sepermainanku. Tiba-tiba wanita itu datang dengan wajah sembab. Aku tidak mengerti bahasa yang ia ucapkan, aku hanya mengerti bahasa tubuhnya saja.  Tidak bisa berbuat apa-apa. Aku yang baru pertama kali melihat sosok seorang wanita menjadi sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan yang paling bodoh di bumi ini.

Derap suara kaki memekakkan pendengaranku saat seseorang berbadan tegap dengan jari-jarinya yang sangat lebar mendekati wanitaku. Aku hanya melempar padang ke teman-temanku tak ada yang mengerti dan tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Laki-laki itu tak hanya sekali terlihat dengan wanita yang ku cintai itu. Hari-hari sebelumnya pun mereka selalu terlihat bersama. Berbeda dengan hari itu, seperti ada sesuatu yang membuat mata wanitaku itu sembab. Dengan memainkan sedikit nada, aku memberi isyarat pada yang lainnya. Hanya mengerdik.

Kulihat air mata wanita itu tambah menjadi. Yang bisa aku lakukan menampung air matanya yang menetes pada tubuhku. Tuhan memberikan rasa sayang memang kadang tidak tepat. Sadar. Hanya sebatas benda mati yang hanya bisa diperlakukan sebagaimana mestinya tidak ada keistimewaan yang aku rasa. Tetapi, berbeda dengan wanita itu. Ia memberikan rasa kasihnya terlalu dalam hingga aku tak sadar jika ia manusia dan aku adalah sebuah benda.

***

Tentang Janatin.

Kisah yang tertulis ini mereka yang menuliskan. Saat aku sudah bertabur bunga-bunga yang wangi. Biarkan mereka menceritakan bahkan meberitakan sampai pada ranah keasingan di bumi. Aku tidak peduli. Aku hanyalah seorang wanita yang tak bisa dikatakan sebagai seorang wanita yang sesungguhnya. Ketika aku matipun tidak ada yang tahu jika aku masih meninggalkan kegundahan. Hidupku hanya mengabdi pada seorang laki-laki yang tak aku sukai.

Jikalau orang tua lelaki itu tak menyuruh dan memaksa orang tuaku pasti aku tak menikah dengan lelaki bedebah itu. Selanjutnya, keseharianku temaram. Tidak ada matahari dalam hati, semuanya gelap. Benda-benda di dalam sanggar itu adalah teman yang paling bisa aku andalkan, meski mereka tak mengerti apa yang aku keluhkan ketika aku menemui mereka. Jika aku diberi pilihan oleh Tuhan maka aku akan memilih menjadi seperti mereka, menjadi alat musik yang hanya mengeluarkan nada-nada terbaik dan selalu menenangkan. Tanpa harus memikirkan masalah hati.

Pagi itu dengan embun yang masih bertengger di ujung pucuk daun, aku tusukkan sebuah belati yang berada di ujung ruangan sanggar musik itu pada kedua mataku. Merasa aku masih hidup maka aku tusukkan kembali belati itu ke bagian pas hulu hatiku. Kabur. Gelap. Roh ku keluar, aku melihat banyak wartawan dan warga yang mulai berdatangan sebagian mencibir tubuh yang terlentang lemah dan bodoh dihadapan mereka.

Betapa tidak percayanya aku. Ketika aku melihat nyawa-nyawa yang menempati di alat musik yang selalu aku datangi setiap hari. Mereka, menangis tersedu melihat aku yang sudah berdarah. Yang aku ingat sebelum akubenar-benar lenyap membawa rohku ke langit ke tujuh, mereka tetap percaya aku ada dan selalu menjadi wanita tercantik yang pernah mereka kenal.

“Jika aku menjadi kalian, orang yang sedang membaca percikan sajak ini, aku akan datangi mereka dan merawat mereka. Sayangnya kalian tidak menegrti apa-apa. Aku terus berjalan melewati banyak wartawan, tak ada jawaban dari sebuah pertanyaan. Tersenyum”.

Bulan kedua di tahun pergantian pemimpin.[]

*Penulis adalah alumni SMA Nuris Jember, penulis buku antologi cerpen “Gandrung Melarung Mendung”, sekarang sedang studi sarjana di FIB UNEJ


[1] Percaya dalam Bahasa Aceh

[2] Syair Wahyu Kolosebo

[3] Alat musik tradisional Daerah Aceh

[4] Percaya dalam Bahasa Jawa

[5] Syair Wahyu Kolosebo

[6] Alat musik tradisional Daerah Jawa

[7] Percaya diri dalam Bahasa Papua

[8] Syair Wahyu Kolosebo

[9] Alat musik tradisional Daerah Papua

Related Post