Ungkap Tantangan Artificial Intellegent dan Adab Digital di Kalangan Santri Demi Pembangunan Bangsa
Pesantren Nuris – Dewi Faizal kembali menerbangkan bendera kebanggaan MA Unggulan Nuris lewat prestasi di bidang orasi berbahasa Arab atau khitobah. Kali ini, ajang bertajuk Language and Culture Festival Tingkat Karesidenan Besuki yang diselenggarakan oleh UIN KH. Achmad Siddiq (KHAS) Jember menjadi pembuktian talenta luar biasanya dengan memenangi sebagai juara 3.
Perlombaan yang diselenggarakan pada 05 September 2026 lalu tersebut telah menjadi ajang penyampaian gagasannya tentang tantangan AI atau Artificial Intellegent yang kian merebak dewasa ini hingga ke jantung pondok pesantren. Meski pesantren notabene memiliki keterbatasan akses dengan dunia digital, tetapi isu ini perlu diungkap agar tak salah arah dan pemanfaatannya.
“Iya, kemarin membacakan khitobah sesuai tema dari panitia tentang AI. Alhamdulillah mulai dari persiapan naskah hingga eksekusi saat lomba di hadapan dewan juri dapat berjalan lancar hingga berhasil mendapat juara 3. Saya sangat senang sekali dan berharap lebih baik lagi di ajang lainnya.” Ungkap santri yang duduk di kelas XI A MA Unggulan Nuris tersebut.
(baca juga: Usai Juara di Sidoarjo, Vidic Kembali Bawa Pulang Piala Story Telling Tingkat Nasional di Malang)
Keterlibatan Dewi, sapaan akrabnya di pesantren, dalam kegiatan literasi di pesantren dan MA Unggulan Nuris turut mendukung kemampuannya dalam mengembangkan gagasan kreatif dan talenta dalam berkhitobah. Ia harus melakukan riset sederhana dan membaca banyak referensi agar dapat menuliskan teks khitobah yang faktual dan menarik.
Apalagi, santri asal Genteng, Banyuwangi, ini juga belajar di kelas unggulan kitab kuning yang membuatnya terbiasa dalam pembelajaran bahasa Arab, nahwu-shorrof, dan kemampuan berdiskusi melalui agenda bahtsul masail. Tak heran, perlombaan di UIN KHAS Jember ini dijadikannya sebagai wadah menampilkan gagasan kreatif selain untuk meraih prestasi gemilang.
Dengan prestasi sebagai pemenang ketiga pada bidang khitobah ini, santri cerdas kelahiran Banyuwangi, Juni 2009 ini membawa pulang piala ketiga, piagam prestasi, hingga uang pembinaan sebesar Rp500.000,00. Ia tak sendirian meraih prestasi gemilang ini, salah satu kakak kelasnya bernama Ahmad Harisun Nafi’ (kelas XII E) juga berhasil meraih Juara 1 Taqdimul Qisshoh dengan membawa hadiah total Rp1.000.000,00.
(baca juga: Fokus dan Hobi Membaca Antarkan Musfirotun Nawiroh Rebut Juara 2 OMI 2026 Bidang Biologi)
Pengalaman juara dan berprestasi yang diraih oleh Dewi Faizah ini sebenarnya bukan perkara mudah. Pasalnya, sedari kecil ia telah melatih talenta public speaking hingga kini. Ia pernah didapuk sebagai pemenang ajang da’i cilik tingkat nasional. Ia juga pernah dinobatkan sebagai santri berprestasi Kabupaten Banyuwangi. Di tingkat internal pesantren, ia kerap meraih juara 1 pidato bahasa Indonesia.
Pada Juni 2026 lalu, ia juga telah berhasil meraih juara harapan 2 khitobah ajang Bahana Muharram di Masjid Al Baitul Amien Jember. Ia berharap dapat terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan membaca kitab kuning. Targetnya untuk mengkhatamkan nazam Alfiyah dapat tecapai sebelum lulus dari pesantren. Selain kitab kuning, ia juga tengah rutin murajaah dan berhasil menghafalkan Al Qur’an juz 30.[AF.Red]
