Tepis Badai Demotivasi dan Ayat Sulit, Santriwati Multitalenta Asal Ajung Ini Bidik Posisi CEO Muda demi Senyuman Orang Tua
Pesantren Nuris — Harmonisasi antara ketajaman nalar akademik dan keluhuran spiritualitas berbasis Al-Qur’an memegang peranan krusial dalam membentuk profil santri masa depan yang kompetitif. Di tengah momentum evaluasi capaian akhir tahun ajaran, sebuah catatan perjuangan yang inspiratif kembali diukir oleh generasi muda pesantren. Khansa Dzakiyah A., siswi kelas IX yang menempuh studi di lingkungan Nuris, sukses mengamankan capaian religius yang luar biasa dengan mengokohkan hafalan Al-Qur’an miliknya hingga menyentuh angka 16 juz.
Dara cerdas yang akrab disapa Khansa ini merupakan santriwati visioner yang berasal dari Pancakarya, Ajung, Jember. Di balik pembawaannya yang gemar mengeksplorasi buku-buku fiksi, alumni SDN Pancakarya 1 ini menyimpan ambisi besar yang berorientasi pada sektor manajerial modern. Khansa bercita-cita luhur untuk bertransformasi menjadi seorang CEO muda yang sukses, tidak hanya dalam urusan duniawi tetapi juga di akhirat. Baginya, Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, melainkan kompas moral dan sumber ketenangan jiwa yang dipersiapkan sebagai jangkar spiritual ketika kelak ia memimpin sebuah korporasi atau lini bisnis di masa depan.
Rekam jejak Khansa dalam mengunci ribuan bait kalam ilahi ditempuh melalui pendekatan yang menuntut ketabahan mental yang tinggi. Ia menerapkan metode pelafalan intensif secara berulang-ulang (repetitive audio-visual internalizing) hingga setiap struktur ayat melekat kuat dalam memori jangka panjangnya. Dedikasi Khansa pun tidak hanya membekas di kamar asrama, melainkan juga bersinar di panggung kompetisi. Terbukti, ia merupakan santriwati multitalenta yang sukses menorehkan prestasi gemilang sebagai Juara 1 Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ) sekaligus menyabet predikat Juara 2 Olimpiade IPS.
Kendati demikian, kurva perjuangannya tidak luput dari pasang surut mental dan benturan rasa jenuh. Santriwati asal Ajung ini secara jujur mengakui adanya fase-fase berat saat suasana hatinya sedang menurun. “Tantangan terbesar yang kerap kali menguji konsistensi adalah ketika berhadapan dengan struktur ayat yang tingkat kesulitannya tinggi, serta datangnya rasa malas atau bad mood,” tuturnya secara terbuka. Namun, Khansa mengingat kembali momen paling berkesan dalam prosesnya, yaitu kepuasan batin yang luar biasa ketika ia berhasil menyetorkan ayat-ayat sulit tersebut kepada guru penyimak setelah melalui perjuangan keras.
Riak-riak tantangan tersebut pada akhirnya berhasil ia taklukkan berkat adanya dorongan motivasi yang mengakar kuat di dasar sanubari. Alasan fundamental yang membuat Khansa pantang mengambil langkah surut adalah keinginan luhur untuk melihat kedua orang tuanya tersenyum bangga. Ia memegang teguh komitmen untuk mempersembahkan mahkota penjaga Al-Qur’an sebagai hadiah terbaik bagi keluarganya. Bagi Khansa, proses menghafal Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan yang seru, asyik, dan sarat akan kedalaman makna hidup.
Sebagai ruang refleksi atas tuntasnya fase studi di jenjang ini, Khansa menitipkan harapan yang sarat akan nilai-nilai kemanfaatan sosial. “Harapan terbesar saya setelah menjadi seorang hafidzah adalah semoga limpahan ilmu serta hafalan yang telah didapat ini bisa membawa maslahat dan bermanfaat nyata bagi orang lain,” pungkasnya penuh optimisme. Berbekal karakter yang mandiri, nalar sains yang teruji, serta modal 16 juz di pundak, Khansa Dzakiyah A. siap melangkah mantap menyongsong gerbang masa depan demi mewujudkan mimpi besarnya sebagai sosiopreneur dan CEO muslimah yang mendunia. {SM.RED}
Nama Lengkap : Khansa Dzakiyah A.
Alamat Asal : Pancakarya, Ajung, Jember
Prestasi : Tahfidz 16 Juz
Prestasi : Juara 1 Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ) dan Juara 2 Olimpiade IPS
