Jalan Sutra

Penulis: Ayu Novita Sari

Rimbun senja terbang melengah        

Terhempas tebing tak berarah

Tanah basah harum meraba

Tersaklar pendar cahaya

 

Langit tak berawan, memancarkan sebuih cairan logam kecoklatan. Melawan awan cumolonimbus kejahatan. Tenang. Sendiri dalam kebisingan. Potongan imajinasi senja, masih terkantongi. Cahaya yang bermain dalam hati. Sentuhan senja yang menggelitiki kulit, tersenyum rindu. Angan yang tidak sampai, sampai awan pergi menghilang.

Bisikan angin menyampaikan rindu dari penghuni awan. Tidak seindah kenyataan yang gelap dalam dekapan. Di atas kursi malas impian, aku terbaring. Membisikkan sesuatu kepada seseorang yang berada di tempat sunyi sedunia.

“ Kukirimkan rindu dengan ciuman, pelukan, bisikan, dan sebongkah senja dalam pelupuk mata.”

***

Malam sendu bersenandung menyeru. Cairan menjijikkan terus mengalir walaupun tanpa komando. Hamparan kain putih tak lagi putih dibuatnya. Pemilik cairan terhempas lemas dalam tidur perihnya.

Matahari tumbang di kaki langit. Jingga sejauh mata menatap. Burung camar terbang melengking di antara ribuan burung layang-layang yang terbang membentuk formasi udara. Cahaya matahari lembut menyeka pori kulit Dardum yang menikmati cahaya keemasan senja dengan rasa bukan dengan mata. Sunyi. Meski ia tak bisa menikmati warna jingga keemasan dengan lensa matanya. Tapi, ia bisa merasakan indahnya senja dengan indra perabanya. Mata hati kecilnya pun bisa melihat jingganya senja menyemburat. Iya, Dardum buta.

Di sisi lain bibir pantai yang sama. Sumi bermain dengan debur ombak yang menghempaskan dirinya seperti kapas. Kakinya mengelus – ngelus pasir yang tetap saja hangat. Angin tetap saja lembab dan basah. Tidak jauh berbeda dengan Dardum, ia hanya bisa merasakan cahaya senja dengan mata hati kecil dan indra peraba.

Entah mempunyai kekuatan magnet apa. Mereka sama-sama menoleh, saling pandang. Meski tidak dapat melihat satu sama lain. Hanya bisikan angin yang menyampaikan salam kenal kepada masing-masing mereka.

Ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya. Nyala dengan cemerlang. Hingga hati yang tidak pernah bertemu diikatnya dengan senja kecoklatan.

***

Angin melesir bersama dedaunan kering. Malam pekat menyapa menyalami, seakan menaburkan setangkai mawar rontok di dalam gigil. Awan malam menghalangi sinar rembulan, sehingga membias tersangkut di dedaunan.

Di ruangan agak terang. Terdapat TV yang menyala menampilkan iklannya. Terdapat rak yang tertata rapi koleksi buku braille pemiliknya, tertempel di dinding  jam yang ketika jam menunjukkan 12.00 akan keluar burung dari dalam jamnya. Terlihat di pojok ruangan berdiri pot dilengkapi bunga matahari plastik hiasan.

Seseorang berdiri menikmati sinar rembulan yang membias akibat tersangkut dedaunan. Dardum. Dia memiliki cara lain menikmati kekayaan alam. Di titik dalam relung hati yang paling dalam. Lantas terputar dalam imajinasi bawah sadar.

Di belahan alam yang lain, Sumi. Tersenyum simpul mendengar bisikan angin. Mungkin ini kelebihan dirinya, berdialog dengan alam yang selalu menyampaikan salam. Entah darimana angin itu dikirim. Tetapi, Sumi yakin angin perantara yang dikirim oleh seseorang.

“ Aku yakin seyakin-yakinnya. Kamu, iya kamu. Seseorang yang akan mengajakku melihat hitam putih dunia. Suatu hari nanti.” Sumi berseru pelan sambil menengadahkan wajahnya ke bulan separuh di angkasa yang mulai beranjak naik.

***

Langit bersih tanpa awan membuat pemandangan saat matahari bundar merah, perlahan masuk ke dalam permukaan laut di kaki langit barat. Nampak menakjubkan.

Tanpa disadari, mereka Dardum dan Sumi berpapasan dalam berjalan lawan arah di dalam selimut senja. Lagi–lagi Sumi merasakan cuaca aneh dalam hatinya. Angin berbisik jika seseorang itu berada dalam jarak sangat dekat dengan dirinya. Sayang, Sumi hanya terdiam.

Dalam langkah pasti Dardum. Dardum terhenti ketika mencium minyak wangi seseorang. Ia, itu pengharum baju milik Sumi. Mereka memang tidak tahu konflik dunia, mereka hanya tahu konflik hati mereka sendiri. Hitam putih dunia seakan bukan urusan mereka. Hanya cahaya hati mulia yang terpejar di dalam diri mereka. Indra peraba, pencium, pendengar, adalah perantara proses peradaban dunia.

Dardum hanya terdiam mematung. Percuma dia menoleh ke belakang ia tidak akan mengetahui pemilik pewangi yang hadir belakangan ini dalam penjelajahan senjanya. Gerimis masih membungkus lautan. Kesibukan sedang terjadi. Terdengar di indra pendengar Dardum, orang berangsur-angsur meninggalkan senja. Apakah seseorang itu juga takut pada hujan?. Salah satu hati bertanya. Dardum tertap dalam berdirinya. Berharap seseorang itu juga bertahan dalam berdirinya.

Di lain hati Sumi tidak kalah menikmati senja dalam balutan gerimis. Berpikir ada seseorang yang menghampiri, menyampaikan pernyataan yang  sama seperti perasaan dirinya.

***

Malam kembali datang membungkus lautan. Suara angin melewati kisi-kisi terdengar seperti nyanyian bercampur dengan derum. Malam semakin pekat. Lorong semakin lengah. Matahari beranjak tumbang di kaki barat. Sumi menikmati senja dengan waktu dan keadaan yang berbeda. Burung camar terlihat terbang dengan senyumnya yang khidmat. Ribuan burung layang yang membuat formasi di udara membuat Sumi tercengang melihatnya.

(baca juga: Kayu Bakar untuk Ayah)

Peluit angin. Seakan memberi isyarat. Seperti angin perantara yang memberitakan kedatangan seseorang.

“ Hei, apa yang sedang kamu lakukan?.” Benar saja seseorang itu membubarkan imajinasi Sumi.

“ Kamu siapa dan apa urusanmu dengan apa yang sedang aku lakukan.” Sergap Sumi.

“ Aku hanya orang yang selalu menikmati senja di laut samudera ini. Aku rasa kamu pendatang di sini.”

“ Namaku Sumi, aku juga penikmat senja di laut samudera ini.” Sumi menjulurkan tangannya.

“ Dardum.” Meraih tangan kuning langsat halus  milik Sumi.

“ Aku harap ini pertemuan yang tidak akan ada perpisahan. Salam kenal Sumi.” Perlahan Dardum melangkah mundur meninggalkan Sumi yang menikmati kehangatan pasir.

“ Dardum !” Mendapati Dardum tidak ada, lensa matanya mencari. Di samping tebing ia melihat Dardum melambaikan tangan. Entah tertarik magnet apa. Sumi berlari ke arahnya. Tiba-tiba hujan datang dan mengaburkan semuanya.

Suara alarm terdengar lincah. Matahari datang menghempaskan embun sekaligus menyudahi mimpi semalam.

***

Embun bening mengaburkan suasana. Embun meninggalkan tetesan basah di ujung rumput taman. Kaki tak beralas dibuat basah olehnya. Cahaya matahari lembut merasuk ke pori-pori hingga menghasilkan vitamin.

Dardum dengan halus menyentuh huruf Braille yang dibacannya. Tetapi, suara burung camar membuyarkan konsentrasinya. Ia teringat mimpi tadi malam.

***

Malam kembali datang membungkus lautan.

Sumi dalam kegelisahan masih menikmati cahaya kecoklatan yang membias ungu pada mega yang berlarian bagaikan aliran imajinasi. Ia melihat nyiur, dasar lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis, tetapi ia tidak mendapatkan Dardum dalam pencariannya.

“Apakah pasir yang basah ini dan siluet batu karang tidak cukup membuatmu percaya kalau aku akan tetap datang, Sumi.” Sergah Dardum.

“Kamu kemarin menghilang, aku bingung.”

“Apa yang kamu bingungkan, aku tetap bersama senja dan akan selalu berada di sampingmu.”

“Sudah lamakah kita bertemu dan bersama?” Tanya Sumi.

“Kita selalu bertemu di dalam balutan senja, mungkin kamu tidak menyadari itu semua.” Dardum menatap lekat mata Sumi. “Kamu percaya aku ada?” tambah Dardum. “Ingat Sumi di setiap kamu menikmati senja milikmu aku selalu berada di sampingmu. Entah itu di sini dan di tempat lain. Entah itu dulu, sekarang, dan yang akan datang. Aku akan selalu begitu.” Dardum meyakinkan.

“Kamu akan selalu begitu?” tanya Sumi yang dilanjutkan anggukan lembut Dardum.

Tak disangka tak diduga kabut menyelimuti, menggebu di antara mereka. lagi-lagi cuaca aneh terasa dalam hati Sumi. Cahaya pendar lampu tidur semakin membuat panas suasana.

***

Di kaki langit, matahari bersiap beristirahat. Burung camar terbang melengah. Seseorang menyeka ujung matanya yang basah. Di lain tempat di waktu yang sama hanya berbeda keadaan. Dardum menikmati angin berdesir, dan rasa langit yang sedang bersemburat ungu tersenyum khidmat.

Mereka tidak menyadari aku pura-pura tidak sadar. Kalau mereka selalu bertemu di setiap senja mereka yang nyata. Bagaimana akhir cerita senja mereka. mereka pun tidak tahu. Bertemu dan mencari di tempat lain. Hal yang pas untuk menceritakan kegelisahan mereka. Cukup di dialog yang tidak biasa. Mereka menceritakan itu semua karena merekalah yang memiliki magnet yang paling kuat dalam kehidupan.

***

Senja telah berkali-kali menghilang. Tidak jauh dari keramaian. Bulan separuh di angkasa beranjak naik. Bintang menggelantung menari di sekeliling bulan. Di kaki langir, matahari bersiap beristirahat.

“Sumi?”

“Dardum!”

“Terima kasih ya Sumi kamu telah menemani aku bersama senjaku. Aku harap kamu akan selalu begitu.”

“Maksud kamu apa Dum?” Sumi berseru pelan.

“Tidak ada yang salah. Kita sudah sering berdialog dalam mimpi senja. Di belahan dunia lain, kita seakan tidak mengenali satu sama lain. Tapi di sini kita seakan sudah kenal lama.”

“Aku yang berterima kasih kamu sudah datang dalam mimpiku. Aku ingin kamu dan senjamu bersamaku.” Rengek Sumi.

“Aku akan selalu begitu,” Dardum tersenyum khidmat. “Seperti kalimat pertama yang aku ucapkan pertama bertemu denganmu. Aku dan senjaku akan selalu bersamamu.”

Cahaya teriknya menyapu lautan. Tetapi tidak untuk hari ini, mendung menggelegar bagai monster, lantas gerimis membungkus lautan. Senja sudah sampai ke tempat tidurnya. Dardum melepas genggaman Sumi. Awan seakan turun.

“Sumi, kamu pergi dari tempat ini sekarang. Senja sudah tidur, bukan.”

“Tapi kamu?”

“Kita akan bertemu besok!”

(baca juga: Menjelang Shubuh)

Sudah cukup jauh dari bibir pantai. Getaran terasa dalam posisi berdiri Sumi. Ombak yang biasanya hanya berdesis. Menjadi ganas dan menelan seseorang yang berada di bibir pantai. Dardum, Sumi terhempas. Ia sempat melihat Dardum tersenyum.Bumi seakan berhenti berputar pada porosnya di belakang Sumi. Senja menjadi kegelapan yang basah dan bacin.

***

“Sore ini, kamu tidak usah pergi ke pantai, ya Sumi” pinta Ibu Sumi

“Kenapa Mah?”

“Karena ombaknya besar, sore kemarin ombaknya menelan seorang pemuda tampan, kasihan sekali nasib pemuda itu”

Tanpa dikomando cairan bening keluar membentuk sungai di pipi lembut Sumi. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.

***

Di kursi malas impian itu, Sumi duduk memandang senja. Burung camar masih tetap bergembira, pasir tetap hangat cahaya yang melengah masih tetap lembut, ombak pun masih tetap mendesis. Tapi, sunyi menyesakkan Sumi.

Senja kali ini, senja terburuk dalam hidupnya.

Mendung menggelayuti awan

Cahaya kecoklatan terhempas terbuang

Hanya sunyi terdengar

Senja terdiam tak melawan

Badan ini memang hilang dari penglihatan. Senja nyata mungkin tidak mengundang tapi di senja mimpimu Sumi. Aku akan selalu memandang dalam kejauhan.

Penulis merupakan siswa kelas XII IPS 1 SMA Nuris Jember yang juga aktif sebagai anggota Msains Sejarah dan ekstrakurikuler Jurnalistik Website Pesantrennuris.net.

Related Post