Virus Despacito, “Penyakit” Kekinian yang Fenomenal dan Kontroversial

Virus Despacito, “Penyakit” Kekinian yang Fenomenal dan Kontroversial

 Oleh: Achmad Faizal*

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di MA Unggulan Nuris, Jember

 Pesantren Nuris – Demam Despacito melanda dunia. Gejala panas-dingin yang menjangkiti masyarakat semakin tak terbendung sebab arus sindrom penyakit ini menyebar melalui indera pendengaran. Sejak petikan melodi pertama dapat dipastikan indera pendengar manusia yang mendengar dapat mengidap virus Despacito.

Efek panas-dingin akibat gelombang nada Despacito ini akan memacu adrenalin kejang-bergoyang dan berusaha sedemikian rupa untuk melafalkan suara meski dengan tergopoh-kecoh. Terbukti, menurut amatan program musik breakthrought di NET.Tv dinyatakan, sejak Luis Fonsi dan Daddy Yankee menyebarkan Despacito pada bulan Januari 2017 hingga kini telah menjangkiti 5,4 Miliyar penduduk dunia.

(Baca juga: Muslimah Syar’i Vs Lifestyle )

It’s fantastic!” Rekor dunia untuk penyebaran Despacito, virus produk Spanyol ini mengguncang dunia. Namun, sebagai manusia yang masih belum terjangkit secara masif, perlu bagi kita meningkatkan imunitas terhadap virus Despacito tersebut. Artinya, kita harus mengenal virus Despacito secara bijak sehingga bilapun terjangkit, tetapi tahu diri saat kita harus kejang-bergoyang, apalagi berusaha melafalkannya.

Despacito merupakan judul musik yang begitu fenomenal sekaligus kontroversial. Makna, perlahan yang dinyanyikan Luis Fonsi dan Daddy Yangkee ini sangat easy-listening sehingga membuat masyarakat mudah mengingat dan mungkin sontak menyanyi meski bersuara nanananana…despacito. Namun demikian, apakah kita mengetahui makna lirik Despacito secara utuh? Berikut petikan lirik dan maknanya:

Des-pa-cito,
Per-la-han,
Quiero desnudarte a besos despacito.

Aku ingin menciummu dengan perlahan.

Firmo en las paredes de tu laberinto.

Memberi tanda di dinding labirinmu.

Ya hacer de tu cuerpo todo un manuscrito.

Dan membuat seluruh tubuhmu sebuah naskah.

………………………….

Pasito a pasito, suave suavecito,

Langkah demi langkah, lembut demi lembut,

Nos vamos pegando, poquito a poquito.

Kita akan menangkap sedikit demi sedikit.

Hasta provocar tus gritos,

Untuk membuatmu menjerit.

Y que olvides tu apellido.

Dan kau akan melupakan nama akhirmu.

   Jika kita lebih jeli membaca makna lirik teks Desapcito, pasti kita memahami lagu ini seperti berisi pemujaan terhadap gadis impian seorang penyanyi atau pencipta lagu. Bahkan lebih tepatnya, terdapat unsur ajakan bercumbu atau “mesum”. Astagfirullah.

Ternyata, sebagai penikmat musik pun perlu cerdas bukan? Dentingan musik, irama melodi, derap ritme bahkan dentuman dram butuh dinikmati dengan kritis agar kita tidak terjebak dalam arus perusakan moral dan etika secara softcontact. Tentu, dengan lajur informasi yang semakin canggih dan cepat, siapa pun mudah mendengarkan lagu ini. Jika anak-anak dibawah standar yang menyimak apa jadinya?

(Baca juga: Workshop Pembelajaran Nuris, Jadikan Guru Nuris Semakin Profesional )

Sebenarnya, sudah banyak lagu dari Indonesia pun juga yang kurang layak didengarkan dan menjangkiti anak-anak bangsa meski tak sefenomenal Desapcito. Sebut saja, Hamil Duluan (Tuty Wibowo), Mucikari Cinta (Rimba Mustika), Melanggar Hukum (Moza Kirana), Gak Zaman Punya Pacar Satu (Lolita) dan masih banyak yang lainnya. Deretan lagu yang kurang layak ini sudah sepantasnya tidak mendapat kesempatan tayang di berbagai media karena dapat merusak pola pikir generasi bangsa.

Meski singkat tulisan ini, paling tidak bisa sedikit mengingatkan, bahwa mendengarkan musik itu menyenangkan dan terlebih punya nilai mendidik dan menggairakan semangat produktivitas. Semoga kita yang belum terlalu amat dijangkiti Despacito, lebih bijak dalam mendengarkan musik karena hidup dengan musik hakikatnya adalah kesatuan yang menenangkan.

 

Related Post